Banten

Bukan Tambah Beban Belajar! Kepala BGN Bongkar Alasan, Sasar Program MBG Masuk Kurikulum Sekolah

Abdurahman | 29 Oktober 2026, 22:59 WIB
Bukan Tambah Beban Belajar! Kepala BGN Bongkar Alasan, Sasar Program MBG Masuk Kurikulum Sekolah
Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono menjelaskan usulan memasukkan program Makan Bergizi Gratis dan pendidikan gizi ke dalam kurikulum sekolah (IG/badangizinasional.ri)

Garis Besar: Badan Gizi Nasional (BGN) meluruskan simpang siur usulan masuknya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pendidikan gizi ke dalam kurikulum sekolah. Kepala BGN Sudaryono menegaskan, kebijakan ini bukan untuk menambah jam belajar, melainkan memanfaatkan waktu makan siswa sebagai sarana edukasi praktis.

AKURAT BANTEN — Langkah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, yang mengusulkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pendidikan gizi masuk ke dalam kurikulum sekolah sempat memicu polemik di tengah masyarakat.

Tak sedikit pihak yang khawatir kebijakan baru ini justru akan menambah beban pelajaran bagi para siswa.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Sudaryono akhirnya angkat bicara dan membongkar alasan mendasar di balik usulan strategis tersebut.

Ia menegaskan bahwa pendidikan gizi yang dimaksud sama sekali tidak akan mengganggu atau memangkas jam pelajaran inti di sekolah.

Mungkin sekarang lagi ramai, Kepala BGN minta MBG dan pendidikan gizi masuk kurikulum misalnya, itu maksudnya adalah menjadi satu kesatuan dari unsur pendidikan kita. Dikasih waktu khusus di dalam, jadi tidak mengganggu jam pelajaran, tegas Sudaryono dalam keterangan resminya, Kamis (29/10/2026).

Baca Juga: Stop Nekat Snorkeling dan Mendaki! Gunung Anak Krakatau Resmi Tertutup untuk Wisata

Mengubah Jam Makan Menjadi Ruang Edukasi Interaktif

Sudaryono menjelaskan, konsep penyerapan materi gizi ini tidak disampaikan lewat metode ceramah formal di dalam kelas, melainkan diterapkan langsung saat momen santap makanan MBG berlangsung.

Melalui skema ini, kegiatan makan bersama di sekolah tidak sekadar berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik pangan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran kognitif bagi siswa untuk mengenal kandungan nutrisi harian yang mereka konsumsi.

Skenario waktu pelaksanaan pendidikan gizi disesuaikan secara cermat dengan jadwal kepulangan siswa di sekolah:

  • Siswa Kelas I dan II SD (Pulang Pagi): Sesi makan MBG dan pengenalan gizi diberikan secara khusus sebelum siswa meninggalkan lingkungan sekolah, yakni sekitar pukul 10.00 WIB.

  • Siswa dengan Jam Pulang Siang: Dialokasikan waktu khusus selama satu jam penuh, mulai pukul 12.00 hingga 13.00 WIB.

Baca Juga: Bakar Hutan Demi Modus Murah, 245 Orang Langsung Diseret ke Jeruji Besi!

Siswa Belajar Pentingnya Karbohidrat hingga Protein Hewani

Dalam alokasi waktu khusus tersebut, para siswa akan mendapatkan penjelasan mendalam mengenai fungsi nutrisi penting bagi tubuh mereka secara menyenangkan dan mudah dipahami.

Untuk yang pulang siang, itu diberikan waktu jam 12.00 sampai dengan jam 13.00, 1 jam itu makan MBG sambil diberi pencerahan terkait kenapa kok harus makan karbo, kenapa kok harus makan protein hewani, apa fungsi protein hewani, kenapa harus makan sayur, papar Sudaryono.

Dengan pendekatan ini, BGN optimistis program MBG tidak hanya berhasil mencukupi kebutuhan gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga membangun kesadaran (awareness) pentingnya pola makan sehat sejak dini tanpa membebani mental belajar siswa. (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman